Rabu, 09 November 2011

Working Mom, kelompok baru Dunia Metropolis

Working Mom, kelompok baru dalam Dunia Metropolis

Baru-baru ini entah kenapa saya baru menyadari bahwa ada satu kelompok pekerja baru di masyarakat, yang ternyata jumlah mereka tidak bisa dianggap sepele. Ya, belakangan ini, saya melihat bahwa semakin banyak pekerja wanita di masyarakat. Usia mereka bervariasi, ada yang muda ataupun menengah. Tulisan saya ini khusus bagi mereka yang berusia menengah, karena ternyatakelompok ini memiliki karakteristik yang unik.

Kenalkah anda dengan sebutan Working Mom atau biasa disebut wanita karier? Di jaman metropolitan sekarang yang terkenal dengan konsumerisme, ada perubahan besar di dalam kelompok para pekerja, yaitu dengan masuknya para wanita di dalam kelompok para pekerja. Memang, pekerja wanita sudah tidak asing bagi kita, namun wanita-wanita dengan status ibu dan berkelas social di atas rata-rata, tidak berlebih jika kita menamakan mereka sebagai sebuah kelompok pekerja baru yang muncul akibat kondisi metropolis sekarang ini.

Berbagai alasan dibalik terciptanya Working Mom tersebut, antara lain: adanya keinginan untuk membuat ‘jaring pengaman’ dalam keluarga, sehingga tidak hanya suami yang bekerja melainkan istri juga ikut bekerja. Dan jika suatu saat hal buruk terjadi pada suami, keadaan ekonomi keluarga dapat terbantu. Alasan lain adalah karena memang wanita tersebut sudah bekerja sebelum menikah, sehingga sayang sekali jika ditinggalkan setelah berumah tangga, apalagi jika wanita tersebut memiliki karier yang gemilang.

Ada yang menarik dengan perilaku kelompok ini. Berbeda dengan wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga, kelompok marginal ini memiliki karakteristik yang berbeda dan hal tersebut dapat mengarah ke positif maupun negatif.

 Daya Beli kelompok ini jangan dianggap enteng

Positifnya adalah wanita pekerja tersebut memiliki tingkat kepercayaan diri, status dan juga kepuasan yang tinggi dalam menjalani hidup. Namun juga tidak menutup sisi negative yaitu tingkat stress yang juga tinggi, ketidakpuasan dalam materi serta sering menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga.
Beberapa hal diatas merupakan efek dari bagaimana pola pikir yaitu bagaimana mereka dengan bekerja sudah dapat memiliki daya beli sendiri yang mandiri, tanpa terikat dengan suami atau keluarga. Mereka sebenarnya sudah menjadi source of income bagi keluarganya. 

Konflik terbuka dengan pasangan juga akan terasa di dalam hubungan suami istri. Bukan apa-apa, iklim kerja yang ketat mau tidak mau akan mempengaruhi pola pikir dan berargumentasi. Namun, di sisi lain, working mom akan cenderung memanjakan anak. Hal ini terjadi karena rasa bersalahnya dalam waktu bersama keluarga (anak), sehingga kompensasinya adalah mereka akan lebih memanjakan anak mereka.
Namun, ada fakta dari sebuah survey yang tidak bisa dianggap enteng. Survey itu mengatakan bahwa rata-rata wanita berumur 35 tahun yang berada dalam posisi Working Mom tersebut, memiliki jabatan yang tidak main-main. Rata-rata, mereka menjabat manager atau bahkan direktur, dengan pengeluaran rata-rata 10 juta rupiah per bulan. 

Sebuah fakta yang sangat mencengangkan juga prospektif. Dan bagaimana sekarang wanita muda/ remaja dihadapkan dengan pilihan hidup berkarier dan berkeluarga dengan artian ibu rumah tangga. Mereka akan berpikir dua kali dalam pilihan hidup berkeluarganya.

 
 Working Mom, cita-cita atau sebatas harapan?

Nah, melihat ulasan saya tadi, bagaimana menurut anda? Apakah anda para wanita ingin masuk ke dalam kelompok baru tersebut, atau memiliki pandangan lain? Dan bagi pria, apakah istri anda termasuk dalam kelompok golongan pekerja tersebut? Dan bagi kaum muda, akankah kalian bercita-cita masuk ke dalam kelompok tersebut?

Kalian masing-masing yang menjawab….



Gambar: sekeluarga.com, endyf.blogspot.com, fashionmylove.com, top-womensshoes.com




6 komentar:

Muhammad Gustavie mengatakan...

Wanita bekerja... no problemo, tapi jangan lupa keluarga ya.

adeline mengatakan...

hehhe... betul..

Ejawantah's Blog mengatakan...

Wanita bekerjasilahkan saja, namun jangan sampai melupakan kewajibannya.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Arif Zunaidi Riu_aj mengatakan...

Aku belum punya istri, jadi gka tau gimana rasanya.
Tapi kayaknya pengen working mom aja. Kalo banyak diem di rumah, pasti bakal banya ngrumpi dan sering tengkar ama tetangga di rumah. heheh

adeline mengatakan...

@EJAWANTAH: betul.betull..betulll...

adeline mengatakan...

@ARIF: hadoohh.... emang stereotype ibu2 rumah tangga slalu bgitu ya?? hehe

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...